Ibu Rurin pun langsung menggendong Rurin yang masih dalam keadaan tidur ke rumah Kepala Desa. Tiba-tiba, Rurin pun terbangun. Dimana ini? Apa yang terjadi? Ibu, aku kenapa? Gumam Rurin dalam hati. Setibanya di rumah Kepala Desa, Ibu Rurin pun langsung diinterogasi oleh Kepala Desa. "Mengapa anak anda bisa berani-beraninya menebang pohon suci itu? Padahal disana terdapat roh nenek moyang kita yang telah membangun desa ini, dan mendamaikan kita.." kepala desa pun berbicara dengan panjang lebar. "Tolong, maafkanlah anak saya, ia tidak tau tentang pohon itu, saya tidak pernah memberi satu ilmu tentang pohon itu. Lagipula ia masih anak-anak.." Ibu Rurin pun memohon untuk membebaskan anaknya dari kasus itu. Ibu Rurin dan Kepala Desa bersilat lidah selama 30 menit.
Setelah pembicaraan itu berakhir, Rurin dan ibunya segera pulang ke rumahnya. "Ibu, apa yang terjadi? Ada apa tadi disana?" Rurin pun penasaran tentang kejadian yang dialaminya tadi. Ibunya hanya bisa menghela napas. Rurin pun kecewa. Ia menyesali perbuatannya. Harusnya ia tidak menuruti perintah Mina, Lulu dan Lin. Ia harusnya tidak menebang pohon itu. "Nih," kata ibunya sambil menyerahkan secarik kertas. Rurin pun langsung membacanya. Setelah membacanya, alangkah kagetnya Rurin. Karena ia menebang pohon suci itu, Rurin dikenakan hukuman; ia harus dikurung dan dikucilkan di sebuah rumah kosong ditengah hutan, seumur hidup. Rurin pun langsung meneteskan air matanya. Ia sangat menyesal. Andaikan saja kejadian saat ia akan menebang pohon itu dapat diulang kembali. Rurin mengerti sekarang. Mina, Lulu, dan Lin ingin menyingkirkan Rurin dari hidupnya selamanya. "Ibu, kapan aku akan menjalankan hukuman ini?" Ibunya pun menjawab, "Mulai besok."
Pagi-pagi sekali, Rurin pun berkemas dan bersiap-siap untuk menghuni rumah itu sendirian. Rurin dan ibunya berjalan kaki ke rumah itu. Sesampainya disana, Rurin harus mengucapkan kata terakhirnya kepada ibunya. "Ibu.., aku akan baik-baik saja disini. Ibu tidak perlu cemas. Aku akan hidup disini dengan damai, tidak akan diganggu oleh Mina, Lulu dan Lin lagi. Aku harus menjalani hukuman ini dengan baik. Ibu jangan mengkhawatirkanku, karena semuanya akan baik-baik saja.." Rurin pun meneteskan air matanya dan memeluk ibunya. "Semoga kau akan baik-baik saja.. Ibu selalu sayang padamu Rurin.." Kata ibunya. Ibunya pun langsung meninggalkan Rurin sendirian di rumah itu. Rurin pun langsung menangis kecil. Tiba-tiba, "Wah, kamu Rurin si penebang pohon suci ya?" seekor kelinci berbicara kepadanya. Kelinci bisa bicara? Rurin pun kaget. "I.. Iya..?" jawab Rurin. "Wah, kalau begitu, aku Rubi, akulah yang akan menjagamu selama kamu tinggal di rumah ini!! Jadi, jangan menangis lagi ya! Kamu tidak sendirian lagi sekarang!!" kata Rubi si kelinci. "Iya.. Baiklah! Sepertinya kamu teman yang dapat diandalkan. Mulai sekarang, kita akan berteman selamanya!" Seru Rurin. Mereka pun langsung memasuki rumah itu. Ternyata, isinya sangat bersih. Kasurnya empuk, karpetnya bagus dan halus, serta sudah tersedia makanan yang enak diatas sebuah meja. Ternyata, Rubilah yang menyiapkan semua itu. Rurin tidak sedih lagi sekarang. Ia sudah punya teman dan sangat senang dengan teman barunya itu. (bersambung ke Part 3)

0 komentar:
Posting Komentar